Tampilkan postingan dengan label kamu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kamu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Maret 2016

Kaulah Aurora

Hanya sekedar ingin menulis. Tidak semua yang kutulis adalalah aku, dan tidak semua yang kau baca adalah kau
Malam ini seakan terkunci dalam bisu. Rasa itu masih terus mengusik otak kecilku,” apa dia? Apa benar?”. Semua ini ku jalani tanpa sebuah awalan dan apakah akan berakhir tanpa sebuah kata berakhir juga? Hati ini ingin terus diam, tapi bibir dan hasrat terus berontak ingin bebas keluar dari celah tanda tanya hatiku. Sungguh ku tak mengerti kapan datangnya rasa ini.
Terkadang dia ada dengan senyum dinginnya tapi itu lebih baik daripada harus lihat dia dalam bekunya. Seakan dunia kami berbeda atau sudut pandangku yang terlalu berlebihan menanggapi sikapnya. Kami berjalan tanpa benang yang terikat, tanpa komitmen yang terjalin. Terus mengalir tapi gak pernah tau arus mana yang hendak dituju. Terkadang amarah membuat kami tak sadar akan sikap. Ketika sadar hanya diam yang menjawab. Lalu berlalu pada senyuman dan chanda, seakan asing dan penuh jaim.
Aku tak bisa mengungkap pinta hatiku. Andai bintang jatuh itu benar adanya, apa benar ia bisa menjawab keinginanku dengan free? Aku ingin tau isi hatinya. Tak ingin jauh dari senyumnya. Apa dia merasakan gejolak ini? Atau hanya aku yang menanggapinya sebelah hati? Sungguh diri ini belum menemukan kepastian itu. Tapi mengapa aku masih terus menunggu? Apa penantian ini akan ada pastinya? Tuhan, apa dia pelengkap celah hatiku? Jika iya, dekatkan kami dalam putaran waktu-Mu, jalinkan kami dalam skenario cerita-Mu, eratkan kami dalam bingkai dunia dan akhirat-Mu. Namun, jika itu hanya hiasan dalam mata hidupku. Maka pupuskanlah rasa di hati ini agar aku tak pernah menunggu ruang itu lagi. Jauhkan kami dalam rasa yang tak pernah satu. Tapi cukup dekatkan kami dalam rasa saling memiliki. Karena itu lebih berarti. Agar selamanya ku akan tetap memilikinya walau tak akan pernah menggenggamnya.
Mungkin aku tak setia merpati tapi aku bisa menjaga rasa ini seawet cinta merpati. Aku hanya ingin tau apa yang akan terjadi jika nanti kami bersama dalam jalinan merpati putih yang kekal. Dan pengorbananku untuk dia pun tak seberani julliet yang rela mati untuk cintanya. Tapi aku cukup berani untuk menjaga rasa ini sendiri dalam bisu gundahku dan dalam bising hatiku. Aku akan terus berjalan dalam tanda tanya hingga kutemukan jawaban itu. Beri aku jawaban akan isi hatinya Tuhan, aku hanya ingin dia saat ini jika Engkau mengizinkannya.
Sedikit lagi semua ini akan berlalu dan apa akan berakhir juga? Kami akan terpisah dalam jarak dan salama detik masih berlalu kami akan hilang dalam komunikasi yang samar dan tanpa ada lagi kata “Hai..”. sungguh ku ingin bawa dia dalam hidup ini. Aku takut komunikasi itu akan hilang dalam hitungan detik saja. Aku yakin dia akan hilang dan aku belum siap untuk itu. Karena ada rasa yang belum terungkap, ada cerita yang belum terkisahkan dan ada kenangan yang belum tersusun. Sungguh hal ini sudah semakin ku perhitungkan dalam ayunan langkah kakiku dan senyuman senja di sore hari.
Tatapan itu, sungguh tak pernah bisa aku singkirkan dari lamunanku. Kedipan nakal dan senyuman manis itu benar-benar melekat pada sampul otakku. Sungguh obrolan yang tak bermakna hanya karena untuk sekedar menatap cerah wajahnya. Senyum sipu malu namun berkesan simpul itu membuat hati ini tergelitik untuk berbagi pada dunia. Dan pandangan yang ia curi dari sisi-sisi orang yang menghalang aku, sungguh tak bisa aku lupakan. Aku ingin jawaban itu adalah “aku” .
Aku ingin cepat tergugah dari lamunan panjang dalam mimpi kecilku ini. Tak hanya merasakan senang itu sendiri. Ingin segera berbagi padanya, pada sahabatku, dan pada dunia yang selama ini memperhatikan perjalanan cintaku. Hitung mundur detik itu sekarang !!